Growinc Group Indonesia: #SeringSharing Untuk Kembangkan Talenta Periklanan Lokal

#SeringSharing 2018

Jakarta – Komunikasi dan periklanan sebagai bagian dari strategi perusahaan dari waktu ke waktu semakin dianggap penting. Terlebih, dengan semakin berkembangnya teknologi, ternyata juga menyebabkan strategi komunikasi perusahaan berevolusi untuk dapat semakin memberikan dampak yang positif bagi keberlangsungan perusahaan. Untuk menjawab tantangan evolusi dalam hal komunikasi, Growinc Group Indonesia menginisiasi sebuah wadah berbagi bagi para pelaku bisnis dan pakar di bidang komunikasi dalam agenda #SeringSharing (7/3) yang diadakan di Growinc Hall, Growinc Group Indonesia, Jakarta Selatan.

“Saat ini, industri periklanan mengalami tren yang positif di Indonesia. Selain menjadi andalan dalam subsektor ekonomi kreatif versi Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BERKRAF), dari waktu ke waktu, kebutuhan akan industri komunikasi dan periklanan semakin tinggi.” Terang Ridhi Mahendra, CEO Growinc Group Indonesia.

Ridhi menyampaikan bahwa #SeringSharing merupakan agenda yang diinisiasi oleh Growinc Group Indonesia untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di industri kreatif yang saat ini cakupannya cukup luas dan saling berhubungan satu sama lain.

“Awalnya, sejak tahun 2015, #SeringSharing merupakan salah satu program talent development yang dilakukan oleh Growinc Group Indonesia setiap kuartal untuk meng-upgrade kualitas SDM di Growinc Group Indonesia yang menaungi lebih dari 80 talenta lokal di industri komunikasi dan periklanan.” Terang Ridhi. Ridhi juga menambahkan bahwa #SeringSharing merupakan salah satu kontribusi dari Growinc Group Indonesia untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia, terutama di industri komunikasi dan periklanan.

Melalui agenda #SeringSharing, Ridhi juga menyampaikan bahwa saat ini industri periklanan di Indonesia telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Salah satunya dikarenakan semakin meleknya penggunaan teknologi di Indonesia.

“Dari data yang dirilis oleh Berkraf, pertumbuhan belanja iklan nasional bisa mencapai 5-7% setiap tahunnya. Namun demikian, pertumbuhan belanja iklan juga diimbangi dengan kenaikan kompleksitas komunikasi kepada audiens.” Kata Ridhi. “Untuk itu, agar bisa menjalankan berbagai aktivasi komunikasi yang lebih kompleks, diperlukan transformasi kualitas sumber daya manusia di Industri periklanan, salah satunya dengan meng-upgrade softskill dan hardskill mereka sesuai dengan permasalahan yang ditemui pada saat proses eksekusi.” Tambahnya.

Diikuti oleh 100 audiens yang berasal dari industri komunikasi dan periklanan, #SeringSharing dengan tajuk “Limitless Creativity” menghadirkan dua pakar yang berbagi pengetahuan di industri kreatif dan komunikasi. Dua pakar tersebut adalah Anton Ismael sebagai inisiator perusahaan kreatif Third Eye Space dan Andres Christian sebagai Head of Business Unit Inside ID.

Sebagai salah satu pembicara di #SeringSharing, Andres menyampaikan bahwa saat ini, data tidak hanya sebagai instrumen pendukung dalam industri komunikasi dan periklanan, melainkan saat ini data juga memiliki peran cukup signifikan yang dapat memperkuat sebuah pesan bagi brand maupun perusahaan.

“Dengan adanya data, kita dapat menentukan strategi kreatif yang lebih tepat sasaran dalam menyampaikan pesan melalui audiens kita.” Terang Andres. “Selain itu, dengan tahu banyak hal tentang data secara akurat, kita juga dapat menentukan apakah pesan yang kita sampaikan ke masyarakat dapat diterima atau justru kurang sesuai. Jadi, dari awal, tengah, hingga akhir proses penyampaian komunikasi melalui iklan, kita dapat mengukur keberhasilannya melalui data.” Tambah Andres.

 

Inside.ID Rilis “Understanding Indonesian Consumers Outlook 2018”di SeringSharing

Dalam momen #SeringSharing, Andres sebagai Head of Business Unit Inside ID juga merilis survey bertajuk “Understanding Indonesian Consumers Outlook 2018”. Menurut Andres, riset tersebut menggambarkan kondisi konsumen serta persepsi mereka tentang kondisi perekonomian di Indonesia.

“Dari hasil survey Inside.ID, konsumen di Indonesia cenderung memiliki optimisme tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. Dari hasil survey yang telah kami lakukan, 58% responden kami memberikan respon positif terhadap kondisi ekonomi masa depan. Sementara itu, 15% responden memberikan respon yang pesimis terhadap kondisi ekonomi di Indonesia. Sisanya, sebanyak seperempat dari total jumlah responden memilih netral.” Terang Andres Christian, Head of Business Unit Inside ID.

Menurut Andres, tingkat optimisme terhadap masa depan perekonomian di Indonesia merupakan imbas dari sentiment positif dari kondisi perekonomian di tahun sebelumnya. Dari data yang didapatkan, 86% responden memberikan respon yang positif terhadap kondisi ekonomi mereka pada tahun 2017.

Dalam hasil temuan risetnya, Andres juga menyampaikan bahwa saat ini sudah mulai muncul perubahan perilaku konsumen di Indonesia. Salah satunya terkait dengan pendapatan dan pengeluaran bulanan.

“Pada dasarnya, sebagian besar konsumen di Indonesia mengaku bahwa pada tahun 2017 pendapatan mereka mengalami kenaikan. Namun, dari data yang ada, 54% mengaku bahwa kenaikan pendapatan yang mereka dapatkan tidak terlalu signifikan. Hanya 8% responden yang mengatakan bahwa pendapatan mereka setiap bulan naik signifikan. Sementara itu, sisanya menyampaikan bahwa pendapatan bulanan mereka tidak berubah atau justru mengalami penurunan.” Kata Andres.

Andres menambahkan bahwa dari pendapatan yang didapatkan setiap bulan, sekitar 11% dari konsumen Indonesia mengklaim bahwa mereka memiliki pendapatan yang cukup lebih tinggi dibandingkan dengan pengeluaran mereka. Namun, secara umum perbandingan antara pendapatan dan belanja hampir sama, yaitu mencapai 68%.

“Dengan kata lain, meski konsumen di Indonesia memiliki kenaikan pendapatan, namun nampaknya biaya bulanan yang mereka konsumsi juga meningkat.” Jelas Andres.

“Berdasarkan hasil survey yang dilakukan, kami menemukan data bahwa dari pendapatan bulanan yang didapatkan responden, rata-rata sebanyak 32% dihabiskan untuk biaya konsumsi kebutuhan pokok bulanan seperti kebutuhan sandang dan pangan. 29% lagi digunakan untuk kebutuhan rutin bulanan seperti biaya telepon, listrik, dan pulsa.

“Setelah mengalokasikan untuk biaya rutin dan kebutuhan pokok, rata-rata sebanyak 13% dari pendapatan mereka digunakan untuk membayar kartu kredit maupun cicilan bulanan. Setelah itu, sisanya baru dialokasikan untuk investasi, asuransi, maupun pembelanjaan tersier seperti berwisata Bersama keluarga.” Terang Andres.

###

Tentang Growinc Group Indonesia

PT Growinc Indonesia merupakan business solution partner yang bergerak di bidang
periklanan yang menaungi empat unit bisnisnya, yaitu Inside ID sebagai unit optimization
research, Growmint sebagai unit creative advertising, dan Nesvara sebagai unit event
management partner. Saat ini, Growinc Indonesia sudah mendapatkan kepercayaan dari
berbagai sektor industri untuk menangani strategi komunikasi pemasaran dan periklanan
perusahaan baik berskala nasional maupun multinasional. Diantaranya adalah dari sektor
otomotif, telekomunikasi, airlines, keuangan dan asuransi.

Informasi lebih lanjut:

Dyama Khazim Setyadi
Corporate Communications
dyama@growinc.id / pr@growinc.id

Leave a Reply

Recent Comments

    Our Works

    Campaign Case Study - Advertising Agency Indonesia
    Campaign Case Study - Advertising Agency Indonesia
    Campaign Case Study - Advertising Agency Indonesia
    Campaign Case Study - Advertising Agency Indonesia
    #Girlphabet - Laurier by PT KAO Indonesia #Girlphabet Campaign Case Study